(Jika Anak Telanjur Tahu Seks Minggu, 02 April 2006)

BEGITU cepat dan bebasnya informasi melalui teknologi, membuat orang tua terkaget-kaget mendapati perkembangan pengetahuan seks yang dimiliki anak-anaknya.

Kaget bercampur heran dialami seorang wanita, sebut saja Ny. Nining (46). Waktu putri keduanya Tenri (nama samaran) mendapat haid, ia merasa saatnya memberikan pendidikan seks. Namun jawaban Tenri membuat Nining tercengang. “Yang gituan sih aku juga udah tahu dari temen-temen. Aku juga udah lihat kok lewat HP temenku,” kata Tenri.

“Meski saya tidak punya penyakit jantung, dada saya langsung berdetak keras. Ya ampun, zaman apa ini? Hubungan intim pun ada di telepon genggam! Berbeda dengan zaman kakaknya dulu. Begitu mendapat haid umur 13 tahun, dia baru tahu soal hubungan suami istri setelah saya beri penjelasan,” ujar Nining. Mengetahui itu, Nining tergagap, tak tahu apa yang harus dilakukan.

Lain lagi yang dilakukan Sudrajat (44). Akhir-akhir ini ia rajin memeriksa handphone anaknya. “Nggak adalah privasi-privasi segala. Sekarang kita orang tua yang harus jeli,” kata Sudrajat. “Kejelian” bapak tiga remaja ini diawali ketika suatu waktu mendapati anaknya, Gilang (14) bersembunyi di kamar mandi. Ketika ditanya Gilang mengaku sedang menghapus gambar-gambar kiriman seseorang. Gambar yang dimaksud Gilang rupanya adegan hubungan mesra perempuan dan laki-laki.

“Sampai-sampai saya terpikir untuk mengambil kembali handphone anak saya. Tetapi anak saya sekolahnya jauh, ia perlu alat komunikasi itu,” tutur Sudrajat.

Punya atau tidak HP, informasi yang mengalir deras tidak bisa membendung beredarnya tayangan adegan yang seharusnya dilakukan secara tersembunyi oleh pasangan sah. Ranti (15) menjerit kecil ketika suatu saat secara tak sengaja membuka sebuah situs internet yang baru dibuka seseorang di sebuah warnet (warung internet). “Padahal di sekolah aku sudah menghindar kalau temen-temenku mau ngasih lihat,” katanya kesal. Ia mengaku banyak sekali temannya yang sudah tahu tentang itu.

“Sekarang gampang sih dapetinnya, di komputer, majalah, juga komik. Kalau gak tahu, temen-temen pasti bilang kuper (kurang pergaulan-red.). Tapi tidak semua teman mau kok liat yang begituan. Aku juga tidak, buat apa sih? Kan kalau udah waktunya kita juga ngalamin nanti,” ujar Dira (15), teman Ranti, pelajar sebuah SLTP Kota Bandung.

Informasi khusus dewasa itu memang begitu mudah didapat. Tak usah dicari, terkadang tanpa sengaja pun anak-anak mendapatinya. Ada beberapa komik terbitan Jepang yang menyuguhkan adegan seks dalam lembaran-lembarannya.

**

PUSAT Informasi dan Pengembangan Konsultasi Kesehatan Reprodukasi Remaja MCR PKBI Jabar salah satu lembaga favorit anak remaja Bandung untuk curhat tentang masalah hubungan seks.

Kasus yang ditanyakan para remaja ini meliputi hubungan seks pranikah, petting, hubungan seksual lain (fantasi, kissing, necking, dll), menstruasi, masturbasi, virginitas.

Menurut Yayu Mukaromah, S.Sos, Manajer Program MCR Bandung pertanyaan seputar seks cenderung meningkat dari tahun ke tahun. “Dibandingkan dari orang tua, dari hasil sharing dengan mereka, remaja mengaku banyak mendapat masukan dari teman-temannya tentang masalah seks,” katanya.

Namun umumnya remaja masih tetap menggunakan akses layanan informasi melalui telefon atau SMS (short messages service). Mereka masih malu jika berkonsultasi tentang seks melalui tatap muka. “Mereka juga mengaku malu jika bertanya pada orang tuanya tentang masalah yang berkaitan dengan seks. Padahal informasi dari teman ini belum tentu benar,” ucap Yayu.

Menyiasati hal ini, MCR melakukan konsep peer education, yaitu pendidikan teman sebaya. Pada program ini MCR melakukan perekrutan beberapa remaja untuk diberikan berbagai informasi yang tidak hanya menyangkut pendidikan seksual, juga tentang kesehatan reproduki. Kelak, ia bisa menjadi sumber informasi dan menjadi tempat curhat yang benar bagi teman sebayanya. Untuk usia 14-15 tahun, atau usia sekolah lanjutan pertama, MCR membuat strategi pelayanan berupa teacher training yaitu memberikan pelatihan kepada guru atau kakak pramuka tentang berbagai informasi tersebut.

Program Officer PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) Jawa Barat Karyantri Dewi, meminta orang tua jangan panik jika mendapat “serangan” pertanyaan tiba-tiba dari anaknya perihal seks.

“Terkadang kita orang tua suka terlalu jauh menginterpretasikan pertanyaan anak. Padahal mungkin mereka hanya ingin tahu hal yang sederhana saja. Tetapi kita sudah keburu panik, sehingga menghambat komunikasi dengan anak,” kata Dewi.

Dewi menegaskan, pendidikan seks sudah bisa diberikan semenjak anak masih balita, namun dalam konteks sebatas yang diperlukan anak. “Informasi layak diberikan ketika anak bertanya. Tetapi tentu saja harus sesuai dengan umur dan perkembangan anak itu sendiri,” tutur Dewi.

Dengan pengetahuan yang jelas dan benar tentang segala sesuatunya mengenai seksual, Dewi mengharapkan para remaja berperilaku sehat. Namun ia tidak setuju jika dikatakan anak sekarang banyak mengetahui masalah seks dari teman-temannya.

“Sebenarnya pengetahuan dasarnya sudah diberikan orang tuanya. Pendidikan seks tidak hanya meliputi hubungan antar jenis, tetapi juga tentang relasi gender, tentang perbedaan jenis kelamin yang pastilah telah diberikan secara sengaja atau tidak ketika anak masih kecil. Remaja cenderung menyempitkan pendidikan seks ini pada masalah hubungan seksual itu sendiri,” tuturnya.

Kegagapan orang tua dalam menghadapi pertanyaan anak memang tak bisa dihindari. Jangankan para orang tua yang “awam” tentang pendidikan seks, bahkan seorang dokter pun bisa jadi gelagapan. Dewi bercerita tentang rekannya seorang dokter yang gelagapan ketika suatu malam anaknya bertanya, “Ma, aku kan sudah dikasih tahu fungsi kondom itu untuk mencegah penyakit AIDS dan dipasang di alat kelamin laki-laki. Tapi kenapa harus diberi rasa stroberi dan lain-lain?”

Ibu dokter yang tentu saja memiliki latar belakang medis dan yang banyak tahu pendidikan seks ini sempat bingung sebelum akhirnya bisa menemukan jawaban asosiatif. Ia mencontohkan penghapus pensil pun bermacam-macam aroma.

Ketika anak telanjur tahu sebelum orang tuanya memberikan informasi yang benar, Dewi menyarankan orang tua bersikap tenang. Yang harus dilakukan orang tua adalah meminimalisasi peluang anak melakukan hubungan seksual pranikah.

Selain itu, orang tua memang benar-benar diharapkan bisa berkomunikasi dengan anak sekaligus memantau pergaulan anak dan teman-temannya serta melakukan kerja sama dengan guru.

Idealnya, masalah pendidikan seks yang meliputi banyak hal, termasuk kesehatan reproduksi, menurut Dewi layak masuk kurikulum sekolah. Beberapa pihak memang menentang dengan alasan bahwa pendidikan itu malah bisa mengundang rasa ingin tahu remaja tentang seks. “Padahal tidak begitu. Masalah seks tidak hanya sebatas informasi seksual atau pubertas, Tetapi meliputi siklus mulai dari lahir hingga meninggal. Informasi yang benar akan membentuk remaja yang bertanggung jawab dan berperilaku sehat,” kata Dewi. (Uci Anwar)***

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/042006/02/hikmah/utama01.htm


  1. Lha terus, kalau ditanya begitu sama anak, jawabannya gimana dunk? *garuk-garuk bingung!*




Leave a Comment